Friday, November 25, 2011

"Have a nice weekend". ~ARTI HIDUP~

Seorg professor berdiri di dpn kelas filsafat.
Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dgn bola2 golf.
Kemudian berkata kpd murid2nya, apakah toples sudah penuh...... ?
Mereka setuju !!!!

Kemudian dia menuangkan batu koral ke dalam toples, mengguncang dgn ringan. Batu2 koral mengisi tempat yg kosong di antara bola2 golf.
Kemudian dia bertanya kepada murid2nya, apakah toples sdh penuh ??
Mereka setuju !!!

Selanjutnya dia menabur pasir ke dalam toples ...
Tentu saja pasir menutupi semuanya.
Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh..??.
Murid , "Yes"...!!

Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dlm toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para murid tertawa....

"Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."
"Bola2 golf adalah hal yg penting; Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan."
"Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu2 koral adalah hal2 lain, spt pekerjaanmu, rumah dan mobil."
"Pasir adalah hal2 yg sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dlm toples, maka tidak akan tersisa ruangan utk batu2 koral ataupun utk bola2 golf..
Hal yg sama akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal2 yang sepele, kalian tidka akan mempunyai ruang untuk hal2 yang penting buat kalian."
"Jadi Beri perhatian untuk hal2 yg penting untuk kebahagiaanmu.
"Bermainlah degan anak2mu."
"Luangkan waktu untuk check up kesehatan."
"Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam"
"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola2 golf. Hal2 yang benar2 penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasirnya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kopi mewakili apa?"
Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya."
"Itu utk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetap selalu tersedia tempat utk secangkir kopi bersama sahabat"

Life is never flat... Simplify your life...
Warm regards,
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, October 21, 2011

​‎​"KITALAH SANG PENENTU"

Dua org ibu memasuki toko pakaian membeli baju seragam anaknya.

Ibu 1 bernama D, Ibu 2 bernama H.

Ternyata pemilik tokonya lagi bad mood shg tdk melayani dengan baik, malah terkesan buruk, tdk sopan dgn muka cemberut.

Ibu pertama( D )jelas jengkel menerima layanan yg buruk seperti itu. Yg mengherankan, ibu kedua( H )tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kpd penjualnya.

Ibu pertama( D ) bertanya, "Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pd penjual menyebalkan itu?"

Lantas dijawab, "Mengapa saya harus mengizinkan dia menentukan caraku dlm bertindak? Kitalah sang penentu atas hidup kita, bukan org lain."

"Tapi ia melayani dengan buruk sekali," bantah Ibu pertama( D ).

"Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tdk sopan, melayani dengan buruk; toh tidak ada kaitan dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan menentukan hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita," jelas Ibu kedua( H ).

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan org lain kpd kita. Kalau org melakukan hal buruk, kita akan membalasnya dgn hal yg lebih buruk lagi. Dan sebaliknya.

Kalau org tdk sopan, kita akan lebih tdk sopan lagi. Kalau org lain pelit terhadap kita, kita yg semula pemurah tiba2 jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dgn org tersebut. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan org lain.

Kalau direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita. Mengapa utk berbuat baik saja, saya harus menunggu diperlakukan dgn baik oleh org lain dulu?

Jaga suasana hati, jgn biarkan sikap buruk org lain sampai menentukan cara kita bertindak! Kitalah sang penentu yang sesungguhnya! :).
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, July 30, 2011

Bekas Sujud, Tak Sekadar Tanda Kehitaman di Dahi

REPUBLIKA.CO.ID
18 Juli 2011 13:30
Bekas Sujud, Tak Sekadar Tanda Kehitaman di Dahi

Oleh Prof Dr KH Achmad Satori Ismail


Diriwayatkan dari Rabi'ah bin Ka'b bahwa ia berkata, "Aku menginap bersama Nabi SAW dan membantu beliau untuk menyiapkan air wudhunya dan kebutuhan lainnya." Kemudian, Rasulullah bersabda, "Mintalah sesuatu kepadaku." Aku menjawab, "Aku mohon agar bisa menemanimu di surga." Beliau menjawab, "Bukan lainnya?" Aku berkata, "Hanya itu saja. Lalu, Nabi SAW bersabda, "Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud." (HR Ahmad, Muslim, An Nasai, dan Abu Daud).

Hadis ini menganjurkan kita untuk memperbanyak sujud, ruku, dan mendirikan shalat wajib ditambah dengan tathawwu' (shalat sunat) bila kita ingin masuk surga.

Sujud merupakan ibadah istimewa dalam Islam, karena merupakan salah satu rukun shalat dengan cara meletakkan tujuh anggota badan di atas tanah (muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki). Posisi demikian mencerminkan sikap merendah di hadapan keagungan Ilahi. Allah menegaskan, "Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)." (QS Al-'Alaq: 19).

Sujud akan menanamkan ketawadhuan dalam diri kepada sesama manusia dan memancarkan sinar keimanan dan kelembutan melalui wajahnya. Inilah bekas sujud yang diharapkan sebagai amalan penolong masuk surga.

Mi'dan bin Abi Tholhah berkata, "Aku bertemu Tsauban, budak Rasulullah SAW." Lalu, dia bertanya, "Beritahukan kepadaku amalan yang bila aku lakukan maka Allah akan memasukkanku dengannya ke dalam surga." Tsauban diam. Lalu, aku tanya lagi, tapi dia masih diam dan aku tanyakan yang ketiga maka ia menjawab, "Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Kamu harus memperbanyak sujud karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud sekali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan dengannya satu dosa." (HR Muslim, Turmudzi, dan an-Nasa'i).

Kita dianjurkan untuk memperpanjang sujud bila shalat munfaridah (sendiri) karena Rasulullah menyindir orang-orang yang sujudnya cepat, dengan ungkapan bahwa mereka mematuk seperti ayam jago mematuk butiran makanan.

Sujud yang serius akan meninggalkan bekas di wajah orang Mukmin. "Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (QS Al-Fath 29).

Bekas sujud inilah yang akan ditampakkan setiap Muslim via wajahnya. Di antara bekas sujud yang terpancar di setiap muka Muslim adalah ketundukan kepada keagungan Allah, ketawadhuan terhadap sesama insan, kelembutan, senyuman, menundukkan pandangan mata, membasahi bibir dengan zikrullah, sikap kasih sayang kepada anak yatim, fakir, dan miskin.

Sejalan dengan ini, dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa Rasulullah berkata, "Aku hanyalah menerima shalat dari orang yang tawadhu terhadap keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus mendurhakai-Ku, selalu menggunakan siangnya untuk zikir kepada-Ku, mengasihi anak yatim, janda-janda, fakir, dan menyayangi orang yang tertimpa musibah. (HR Al-Bazzar).

Tanda hitam di dahi Muslim adalah salah satu ciri bahwa dia sering melakukan shalat. Namun, bekas sujud yang dikehendaki Allah adalah sikap tawadhu, kelembutan, kepedulian, dan kasih sayang yang dipancarkan wajah setiap Muslim. Wallahu a'lam.

Dimuat di Republika Cetak Edisi hari ini dengan judul: Bekas Sujud
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, June 11, 2011

Tips on defining SMART goals

The SMART approach aims for a Specific, Measurable, Attainable, Realistic and Time-bound goal definition of qualitative goals. 

SPECIFIC
Goals must be clear and unambiguous. When goals are specific, they tell you exactly what, when, and how much is expected. Because the goals are specific, you can easily measure your progress toward their completion.

MEASURABLE
What good is a goal that you can't measure? If your goals are not measurable, you will never know whether you are making progress toward achieving them. Not only that, but it's difficult to remain motivated when you have no milestones to indicate your progress.
 
ATTAINABLE
Goals must be realistic and attainable by the average person. The best goals require you to stretch a bit to achieve them. That is, the goals are neither out of reach nor below standard performance. Goals that are set too high or too low become meaningless, and people naturally start to ignore them. 

REALISTIC
To be realistic, a goal must represent an objective toward which you are both willing and able to work. A goal can be both high and realistic; you are the only one who can decide just how high your goal should be. You should be certain that every goal represents substantial progress. A high goal is often easier to reach than a low one because a low goal exerts low motivational force. Some of the hardest jobs you ever accomplished actually seem easy simply because you enjoyed doing them.
Your goal is probably realistic if you truly believe that it can be accomplished. Other ways to tell if a goal is realistic is to determine if you have accomplished anything similar in the past or ask yourself what conditions would have to exist to accomplish this goal. 

TIME-BOUND
Goals must have fixed start and end points. Commitment to deadlines helps you to focus your efforts on completion of the goal on or before the due date. Goals without deadlines or schedules for completion tend to be overtaken by the day-to-day crises that invariably arise in an organization. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, May 20, 2011

Tafakur: PERAHU KEBERSAMAAN

Sebuah perahu kayu berpenumpang tampak melintas di sungai nan jernih. Sepanjang jalan, para penumpang perahu benar-benar terbuai dengan pepohonan hijau yang memagari tepian sungai. Para penumpang yang berada di lantai atas ini benar-benar beruntung dengan pemandangan indah itu.

Dua lantai perahu penumpang itu memang punya harga sewa yang berbeda. Lantai atas lebih mahal dari yang di bawah. Bahkan mencapai dua kali lipat. Walau begitu, penumpang di lantai bawah masih bisa melihat pemandangan dari balik jendela kecil yang tertutup kaca.

Kelebihannya, penumpang lantai bawah bisa lebih asyik dalam kesunyian tidur. Tak ada suara burung, tak ada terik matahari, dan tak ada angin kencang. Kalau sudah tertidur, waktu menjadi tidak lagi panjang.

Suatu kali, masih dalam aliran sungai nan jernih, pompa air perahu macet. Krisis air minum pun terasa begitu cepat. Beruntungnya, para penumpang masih bisa menikmati segarnya air yang bisa mereka ambil langsung dari sungai yang mereka lewati. Tinggal ambil wadah dan tali, air pun bisa diperoleh.

Beberapa teriakan dari penumpang lantai bawah terus terdengar. "Hei, bagi kami air!" ucap para penumpang bawah. "Ya, kalian bisa ambil ke atas sini!" jawab para penumpang lantai atas.

Di sinilah persoalannya. Kalau penumpang lantai atas bisa mengambil langsung air, sementara yang di bawah mesti meniti anak-anak tangga agar bisa mencapai atas perahu. Dan ini begitu merepotkan.

Suatu malam, masih dalam perahu, beberapa penumpang di lantai bawah merasakan haus yang luar biasa. Kantuk yang mereka rasakan kadang menyelingi rasa haus itu. Saat itulah, rasa enggan menghinggapi mereka untuk bersusah payah menuju atas.

Seseorang dari mereka mengatakan, "Kenapa mesti repot ke atas, toh air yang kita butuhkan ada di kaki kita." Dan ucapan itu pun seolah menyadarkan para penumpang lain kalau merekalah yang sebenarnya paling dekat dengan letak air daripada penumpang atas.

Salah seorang mereka pun berusaha keras melubangi dinding bawah perahu dengan sebuah linggis. Di benak mereka cuma satu: bagaimana bisa dapat air tanpa mesti susah payah ke atas. Karena toh, yang di atas pun tidak merasa perlu untuk berbagi dengan yang bawah.
**

Kebersamaan dalam sebuah wadah, apakah itu perusahaan, organisasi, dan rumah tangga; tidak cukup hanya meletakkan pandangan dari sudut diri sendiri.

Berlatihlah untuk bisa menangkap pandangan dari sudut pandang orang-orang yang bersama kita. Karena dengan begitulah, perahu kebersamaan akan bisa terus melaju ke arah tujuan yang diinginkan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®