Saturday, June 13, 2009

BOSAN HIDUP

http://postingemail.blogspot.com


*********************************************************************
MOTIVATIONAL QUOTES

Destiny is not a matter of chance; it is a matter of choice. It is not a thing to be waited for; it is a thing to be achieved
- William Jennings -

I feel that the most important step in any major accomplishment is setting a specific goal. This enables you to keep your mind focused on your goal and off the many obstacles that will arise when you're striving to do your best
- Kurt Thomas -

Life's up and downs provide windows of opportunity to determine your values and goals. Think of using all obstacles as stepping stones to build the life you want
- Marsha Sinetar -

*********************************************************************

Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit." "Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati." Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi
Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita
mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut
mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita
gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." Demikian sang Master menyarankan. "Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang
guru. "Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya sudah bosan hidup." "Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau
akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !

Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir
malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!

Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu. "Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis ! Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin
pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.

Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku
kami."


Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah
rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!! Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul.
tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati.


http://www.wahanausaha.com


Tuesday, June 2, 2009

Fenomena Facebook & Isu Pengembangan Diri



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Anthony Dio Martin Official Site <anthonydiomartin@yahoo.com>
Tanggal: 26 Mei 2009 03:05
Subjek: Anthony Dio Martin Official Site
Ke: tristanto.wahono@gmail.com

"I don't see how having hundreds or thousands of 'friends' virtually, is leading to any kind of substantive friendships," Cary Goldstein, Director of Twelve Publishers.

Facebook memang fenomenal. Facebook awalnya hanya sebuah situs jejaring sosial terbatas yang diluncurkan untuk siswa dari Harvard College saja. Dimulai pada tanggal 4 Februari 2004 oleh seorang bernama Mark Zuckerberg, mantas lulusan Harvard dan Ardsley High School. Namun, hanya dalam kurun waktu 3 tahun saja, facebook berkembang menjadi situs yang amat populer. Berita di New York Times bahkan mengatakan ada sekitar 175 juta pengguna aktif di situs popler ini, saat ini. Wow! Begitu populernya facebook, bahkan ia dikaitkan dengan kesuksesan personal branding beberapa orang terkemuka, melonjaknya sales beberapa program supermarket seperti Wal-Mart, hingga kesuksesan President Barrack Obama menggalang suara maupun dana, banyak dikaitkan dengan facebook ini.

Di Indonesia, facebook inipun belakangan menjadi amat populer. Mulai dari para pebisnis, ibu rumah tangga, hingga kalangan remaja, facebook seperti sebuah gaya hidup. Bahkan, beberapa rekan saya membeli Blackberry dan IPhone-nya hanya dengan alasan sederhana, bisa mengupdate facebook mereka terus-menerus.
Bahkan, terkait dengan fenomena facebook inipun, saya pun terkadang bingung dengan beberapa teman saya, yang dalam keseharian tergolong orang yang agak anti sosial serta sulit berinteraksi dengan orang lain. Banyak diantaranya, dianggap introvert dan dingin, kalau ketemu orang. Tapi, jangan heran. Bagaimana account facebooknya? Saya pun dibuat kaget olehnya. Di dalam facebooknya, mereka yang tergolong cuek bahkan kurang ekspresif ini dengan begitu mudahnya mengekspresikan diri mereka dalam "wall" maupun "wall-to-wall" dalam facebooknya (ini istilah soal 'dinding' dalam facebook dimana kita bisa mengungkapkan apapun yang kita pikirkan). Malahan, jumlah 'teman' maya mereka pun tergolong sangat banyak.
Tulisan ini, mencoba mengungkap sisi lain di balik perkembangan facebook dan perkembangan jejaring sosial lainnya, dikaitkan dengan berbagai isu yang perlu dicermati dalam kaitannya dengan pengembangan diri (personal development). Dari fenomena ini, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya.

3 Isu Penting
Pertama, risiko mengekspresikan diri.
Dalam training Kecerdasan Emosional baru-baru ini, saya berkisah soal rekan saya dahulu di perusahaan pertama saya yang menggunakan nama samaran, Mr.Nice Guy, dalam setiap kali chatting. Di internet, dia bisa tampak sangat fleksibel, sangat komunikatif dan memberi banyak nasihat. Teman virtual-nya banyak. Tapi, dalam kondisi kerja, orangnya pendiam, tertutup bahkan cenderung sulit berkomunikasi.  Akhirnya, si Mr.Nice Guy ini sendiri sempat pernah berkisah bahwa, dirinya lebih suka berhubungan via internet karena risiko interaksinya lebih sedikit. Kalau tidak suka, bisa diblokir kapan saja dan distop interaksinya, dan persoalanpun selesai. Sementara, kalau berhubungan langsung, orang bisa langsung tersinggung bahkan cenderung lebih sulit diprediksi reaksinya, menurutnya. Baginya, kontak interpersonal langsung harus banyak mempertimbangkan persepsi orang. Intinya, interaksi interpersonal secara langsung, mempunyai risiko lebih sulit. Orang lebih sulit diprediksi, lebih sulit diantisipasi rekasinya dan tidak dalam kontrolnya. Itulah komentarnya soal beda interaksi virtual dengan interaksi langsung.
Akhirnya, dalam konseling saya dengannya, tetap saya tekankan bahwa chatting maupun facebook, tetap saja tidak menggantikan interaksi manusia yang sesungguhnya. Walaupun, facebook serta berbagai aplikasi jejaring sosial lainnya memang sangat membantu suatu proses interaksi dan memperluas networking sosial. Namun, latihan dan pendewasaan yang sesungguhnya tidak dapat tergantikan melalui interaksi virtual. Dalam interaksi langsunglah, kadang kita harus belajar bersabar, belajar membaca keadaan orang, menyesuaikan dengan kondisi orang, bahkan kadang harus mengalami 'pergesekan' dengan orang. Namun, semuanya amat mendewasakan kita dalam melatih interpersonal maupun kemampuan komunikasi kita.

Kedua, facebook atau berbagai situs jejaring sosial harus dipergunakan secara cerdas untuk membangun self image kita maupun interaksi yang sehat.
Celakanya, tatkala content-nya tidak terkendali, justru bisa menyebabkan orang kehilangan muka, kehilangan respek, jadi mengumbar segala sisi gelap bahkan kehilangan ruang privasinya. Di satu sisi, facebook memang menjadi ajang untuk belajar mengekspresikan diri, namun di sisi lain, ekspresi ini bisa menjadi bumerang karena siapapun bisa menuliskan pesan, termasuk orang-orang yang pernah dikenal secara pribadi namun pernah bermasalah. Sebagai contoh, seorang rekan saya yang menjelang kehancuran pernikahannya, justru saling membalas kalimat-kalimat tidak sopan, melalui facebook mereka yang akhirnya terbaca oleh begitu banyak rekan-rekan mereka. Akibatnya, berbagai persepsi yang negatif-pun bermunculan terhadap keduanya.
Mengomentari situasi semacam ini, saya tetap mengingatkan beberapa rekan saya agar mempunyai tujuan yang jelas dengan facebook maupun jejaring sosial yang mereka lakukan. Waktu menulis, harusnya juga dipertimbangkan secara matang, apa yang hendak dikomunikasikan. Sebab sekali sudah ditulis dan terkirim, apapun yang kita pikirkan akan terbaca oleh jutaan orang yang bisa akses ke halaman web kita. Kita pun, harus mewaspadai pula apa yang kita posting-kan serta mengantisipasi risiko dari orang-orang, baik dari yang niatnya paling tulus hingga ke yang 'iseng' untuk menanggapinya. Jangan sampai teknologi ini justru menjadi alat yang merusak citra diri. Kitalah yang harus menggunakannya dengan bijak.

Ketiga, dari sisi manajemen energi dan waktu, facebook maupun jejaring sosial semacam ini bisa menjadi pencuri yang perlu diwaspadai.
Di satu sisi, produktivitas kerja bisa terganggu akibat banyaknya yang addicted untuk melihat ataupun penasaran soal komentar orang terhadap apa yang dipostingkan di situs pribadinya. Kitapun menjadi penasaran, terus-menerus membaca informasi dari orang lain yang terus menerus di-update. Selain energi pikiran jadi lebih terkonsentrasi ke facebook, banyak waktu dan energi yang produktif pun jadi tersita. Makanya, kewaspadaan tetap perlu menjadi senjata bagi kita. Saya mengenal beberapa klien saya yang ketagihan dengan mengisi dan update facebook. Nyaris setiap jam, mereka harus mengecek facebooknya. Dan bisa diperkirakan, karir mereka pun bukanlah yang tergolong luar biasa.

Tak Perlu Antipati
Tulisan ini tidak mengajak kita untuk antipati dengan facebook atau jejaring sosial lainnya. Justru, yang penting adalah bagaimana kita 'outsmart' (lebih cerdas) dari teknologi dan memanfaatkan sebesar-besarnya bagi keuntungan kita. Berbagai perusahaan, dapat mendayagunakan facebook untuk memperluas jaringan salesnya. Cukup banyak artis dan penulis yang mempertahankan fans-nya dengan facebooknya. Mereka yang cerdas, dapat menggunakan teknologi sosial seperti facebook demi kepentingan yang berharga bagi sukses mereka. Nah, bagaimana dengan Anda?
 

RUMAH SERIBU CERMIN

Effective people are not problem-minded; they're opportunity-minded.
They feed opportunities and starve problems
- Stephen Covey -

Success is not the key to happiness. Happiness is the key to
success. If you love what you are doing, you will be successfu
- Albert Schweitzer -



        Di sebuah desa kecil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan
nama "Rumah Seribu Cermin." Suatu hari seekor anjing kecil sedang
berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia
tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa
yang ada di dalamnya.

      Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan
masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi, ekornya
bergerak-gerak secepat mungkin.Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke
dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil
dengan ekor yang bergerak-gerak  cepat. Ia tersenyum lebar, dan
seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar,
hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata
pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat
saya akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."
     
        Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang
lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang
sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu.  Dengan perlahan ia menaiki
tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia
terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak
bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga
dengan seribu gonggongan yang menyeramkan.  Ia merasa ketakutan dan
keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini
sungguh menakutkan, saya takkan pernah mau kembali ke sini lagi."

      Seringkali gambaran atau kesan tentang wajah yang ada di
dunia ini, yang kita lihat ... adalah cermin gambaran dan kesan dari
wajah kita sendiri. Kalau kita mengesankan keramahan, maka dunia
akan tampak ramah...  Kalau dunia terasa suram, mungkin itu karena
kesan yang kita berikan...

Sumber : Unknown

----- Pesan Diteruskan ----
Dari: The Acesia <sj2392002@yahoo.com.sg>
Kepada: The-Acesia@yahoogroups.com
Terkirim: Jumat, 6 Mei, 2005 11:00:22
Topik: [The-Acesia] The Acesia Newsletter No. 35 - Mei 2005




Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!