Showing posts with label Tips Sukses. Show all posts
Showing posts with label Tips Sukses. Show all posts

Wednesday, April 8, 2009

Internet Business with Emotional Intelligence

---------- Pesan terusan ----------
Dari: Anthony Dio Martin Official Site <anthonydiomartin@yahoo.com>
Tanggal: 7 April 2009 03:03
Subjek: Anthony Dio Martin Official Site
Ke: tristanto.wahono@gmail.com


Dimuat di Bisnis Indonesia 20 Maret 2009

"The Internet will help achieve 'friction free capitalism' by putting buyer and seller in direct contact and providing more information to both about each other." - Bill Gates

Pertanyaan :

Pak Martin, saya anak kuliahan, saya ingin sekali berbisnis lewat bisnis on line. Tetapi bagaimana caranya ?

Anggie, Banjarmasin - gie_xxxx@yahoo.co.id

Jawaban :

Salam Antusias, Rekan Anggie!

Memang saat ini perkembangan teknologi dalam dunia internet sedang mengalami percepatan yang luar biasa, dimana percepatannya bukanlah percepatan linear tetapi percepatan yang eksponensial. Saya pun jadi teringat sebuah hukum mengenai perkembangan telekomunikasi yang semakin eksponensial yang dipopulerkan oleh Robert Metcalfe yang terkenal dengan sebutan Hukum Metcalfe.

Dulunya orang hanya dapat berkomunikasi dengan via surat maupun telepon, tetapi seiring dengan perkembangan jaman saat ini yang paling signifikan adalah dengan perkembangan teknologi internet. Dimana teknologi ini dimulai awalnya hanya untuk membantu pendidikan dan militer, tetapi saat ini penggunaannya sudah sangat luas menjadi sumber informasi bahkan sebuah peluang bisnis yang menjanjikan.

Awalnya untuk orang dapat melakukan koneksi internet diperlukan seperangkat komputer (PC) bahkan sebuah notebook, untuk saat ini untuk menggunakan fasilitas internet dapat dilakukan dengan menggunakan handphone bahkan dengan perangkat yang saat ini sedang menjadi trend di dunia bahkan di Indonesia yaitu blackberry.

Seiring dengan perkembangan seperti ini, tidaklah mengherankan internet menjadi sebuah peluang yang bagus untuk berbisnis. Apalagi Rekan Anggie yang masih berkuliah, ini bagus sekali untuk memulai mentalitas berbisnis selagi masih muda.

Untuk memulai sebuah bisnis online ada 3 langkah dasar yang diperlukan :

1. Menemukan produk / jasa apa yang mau kita jual.

Produk tersebut bisa kita buat sendiri (seperti baju, sepatu, tas, buku, ebook, script program, program yang kita buat, dan lain - lain – diperlukan kreatifitas dalam membuat produk, dan disarankan untuk melihat kebutuhan pasar) atau bisa juga menjual produk yang dijual oleh orang lain dengan cara afiliasi (menjual produk orang lain dengan sistem komisi / bagi hasil) ataupun bersama – sama dengan orang lain membuat suatu produk (Joint Venture atau sering disebut dengan JV). Atau bisa juga menawarkan jasa seperti pembuatan design kartu nama, jasa pembuatan website, jasa penjualan rumah, dll. Saya pun jadi teringat kata – kata dari sang pendiri Apple, Steve Jobs yang mengatakan "Innovation distinguishes between a leader and a follower!" Jadi kalau mau menjadi business leader di Internet harus ada kreatifitas dalam melakukan inovasi. Ayo, pakai kreatifitas dan berani untuk melakukan langkah awal, berani mencoba dan berani untuk gagal!

2. Membuat sebuah website untuk menjual produk.

Diperlukan layanan untuk membeli domain (nama website) serta hosting (tempat kita menyimpan file untuk website yang dibuat). Cara termudah bisa saja menggunakan program Content Management System (CMS) untuk membuat website seperti Joomla, Mambo, Wordpress atau Blog. Silahkan cari informasinya di Internet via Google atau mencari bukunya yang banyak juga dijual di toko buku.

3. Mempromosikan website.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempromosikan website, bisa melalui iklan, kasi tau ke teman – teman, membuat stiker, dll. Banyak cara – cara kreatif yang dapat dilakukan untuk mempromosikan suatu website. Cobalah juga mencari melalui Google atau buku – buku mengenai internet marketing karena banyak sekali buku – buku seperti ini.

Yang paling terpenting untuk meraih kesuksesan dalam Internet Business adalah dengan melibatkan unsur – unsur emosional dalam menjalankan bisnis. Dalam hal ini peran kecerdasan emosional memiliki peran yang penting. Masih ingatkah dengan kata – kata dari Daniel Goleman, yang mempopulerkan kecerdasan emosional (EQ) di dunia yang mengatakan bahwa kesuksesan 20% tergantung dari IQ dan 80% tergantung dari EQ.

Dalam menjalankan bisnis di Internet layaknya juga sama seperti menjalankan bisnis di dunia nyata (offline business) hanya saja menggunakan media Internet. Diperlukan juga yang namanya menjaga hubungan dengan customer maupun calon customer (leads), membuat hubungan yang semakin personal (personal touch), memberikan apresiasi atau ucapan selamat ulang tahun misalnya. Selain itu sebagai pebisnis, kita juga harus melibatkan EQ dalam menjalankannya seperti selalu terus memotivasi diri untuk berjuang, memiliki mentalitas pemenang, dan lainnya.

Jadi kesimpulannya dalam menjalankan bisnis baik offline maupun online, alangkah baiknya jika kita juga melibatkan unsur – unsur kecerdasan emosional. Semakin kita cerdas dan mengaplikasikan kecerdasan emosional kita, tentunya perjalanan kita menuju puncak kesuksesan dalam berbisnis pasti bisa dicapai!

Gagal, Siapa Takut?


G A G A L , S I A P A T A K U T ?

"Success is going from failure to failure, without lost of enthusiasm" Winston Churchill"

"Ayo Iwan, bangkit lagi donk sayang ….." kata seorang ibu yang
sedang mengajarkan berjalan kepada putranya yang berusia satu tahun.
Anda pun, saya yakin pernah mengalami proses belajar berjalan
tersebut, hingga hari ini anda bisa berjalan, berlari,
melompat-lompat, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Ingatlah kembali
proses belajar berjalan tersebut, berapa kalikah anda terguling ?
Pasti, puluhan, hingga ratusan kali mungkin. Anda pada waktu masih
kecil, walau otak sadar anda belum bisa berpikir secara logis, tapi
otak bawah sadar anda terus belajar dan belajar, bagaimanakah proses
mulai dari merangkak, berdiri, berjalan langkah demi langkah dari satu
tempat ke tempat lain. Setiap kali anda terguling, otak bawah sadar
anda akan merekam, bahwa terguling itu adalah proses dari cara berdiri
yang salah, sehingga tanpa sadar anda akan mencoba dengan cara yang
lain. Dan, bantuan dari pihak ketiga seperti orang tua anda, akan
semakin mempercepat proses belajar tersebut. Dari kepolosan kita
sebagai seorang anak, dimana kita belum mengerti apa itu gagal dan
sukses, setiap kegagalan akan dianggap sebagai suatu proses untuk
belajar mencari mana yang terbaik.

Saat anda mulai beranjak dewasa, andapun sering mengalami
proses belajar dari kegagalan dalam bentuk yang lain. Ingat pada waktu
anda belajar berenang, atau belajar naik sepeda ? Jarang sekali orang
yang saat belajar berenang tidak pernah kemasukan air di hidungnya,
atau mungkin terjatuh pada waktu belajar naik sepeda pertama kali.
Tapi karena tekad anda begitu besar, akhirnya melalui berbagai proses
jatuh bangun dan sebagainya, anda bisa menjadi seorang yang cukup
mahir berenang atau bersepeda.

Jika melihat dari contoh-contoh yang mungkin pernah kita alami
tadi, sebenarnya kita sudah pernah berkali-kali belajar dari kegagalan
mulai dari kita kecil. Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan hidup
anda saat ini ? Apakah anda masih tetap mempertahankan prinsip belajar
dari kegagalan tersebut dalam setiap bidang kehidupan, ataukah mungkin
kini anda seringkali menyerah, dan anda akan mengeluarkan berbagai
alasan untuk menunjukkan bagaimana hambatan yang ada menghimpit hidup
anda ?

John Maxwell, salah seorang motivator dan filosofis terkenal
dari Amerika, mengatakan dalam bukunya "FALLING FORWARD" bahwa
kegagalan yang terjadi dalam sisi apapun dalam kehidupan manusia,
seringkali dilihat dari sisi yang salah. Padahal jika kita mencoba
melihat dari sisi yang lain, kita bisa mendapatkan banyak manfaat yang
luar biasa. Kesalahan-kesalahan tentang persepsi kegagalan itu menurut
John Maxwell adalah sebagai berikut :

1.Orang menyangka kegagalan itu dapat dihindarkan, padahal tidak
Jarang sekali ada orang yang bisa langsung sempurna melakukan sesuatu
pada kesempatan pertama. Jika anda berharap bisa langsung sempurna
dalam melakukan sesuatu tanpa kegagalan, mungkin anda justru tidak
akan pernah melakukannya. Jadi hadapilah kegagalan itu, dan
pelajarilah untuk lebih baik pada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya

2.Orang menyangka kegagalan itu suatu peristiwa, padahal bukan
Kegagalan bukan suatu peristiwa, tapi HASIL dari tindakan-tindakan
yang sudah kita lakukan sebelumnya. Ambil sebuah contoh, anda
melakukan suatu presentasi kepada klien, tapi ternyata presentasi anda
ditolak. Bukan berarti anda gagal di presentasinya, tapi mungkin
karena persiapan yang kurang lama, materi yang tidak lengkap, dan
sebagainya.

3.Orang menyangka kegagalan itu obyektif, padahal tidak
Kegagalan itu sifatnya sangat subyektif, bukan obyektif. Bisa saja
menurut anda gagal, tapi tidak menurut orang lain. Respons anda
sendirilah yang bisa menentukan apakah suatu tindakan gagal atau berhasil.

4.Orang menyangka kegagalan itu sebagai musuh, padahal bukan
Jangan menghindari kegagalan, tapi belajarlah dari kegagalan itu untuk
memperbaiki diri. Herbert V. Brocknow bahkan mengatakan bahwa "Orang
yang tak pernah membuat kegagalan, akan diperintah oleh orang yang
pernah membuat kegagalan". Anda akan belajar lebih banyak dari yang
pernah anda pelajari jika mau menganggap kegagalan sebagai `teman'
untuk menjadi lebih baik

5.Orang menyangka kegagalan itu sifatnya final, padahal kegagalan
hanyalah suatu proses menuju sukses
Jika kita pada waktu sekolah tidak naik kelas …..kita merasa dunia
seolah runtuh. Semua nampak kelam dimata kita. Tapi, apakah semuanya
akan habis begitu saja ? Semua tentu tergantung persepsi kita saat
memandangnya. Kita masih punya kesempatan untuk mengulang, untuk
belajar lebih rajin dan tekun. Tidak naik kelas bukan final sifatnya,
tapi suatu peringatan agar kita mau memperbaiki proses belajar kita lagi.

Jadi, bagaimanakah anda sekarang mempersepsikan suatu kegagalan ?
Beranikah anda kini mencoba untuk siap menerima suatu kegagalan, dan
belajar daripadanya ? Selama kita masih terkungkung ketakutan akan
kegagalan, kita akan terus berada dalam level yang sama. Tapi saat
anda berani menerima kegagalan, memperbaiki diri dan berusaha terus,
anda akan menciptakan pertumbuhan untuk meningkatkan level kehidupan
anda.
Sukses selalu !

SONNY VINN
Moderator milis The Acesia (www.the-acesia. tk ), Motivational Speaker
Pengarang buku motivasi best seller "SLAM DUNK For SUCCESS"



Pamer gaya dengan skin baru yang keren.
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru sekarang!

Saturday, March 7, 2009

Dare Dreamer atau Daydreamer?

Dimuat di Bisnis Indonesia 6 Februari 2009

"Happy are those who dream dreams and are ready to pay the price to make them come true." – Leon Joseph Cardinal Suenens

Baru-baru ini, saya menyaksikan tayangan biografi Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, Barack Hussein Obama. Menilik perjalanan hidupnya, sangat sulit terbayangkan bagaimana anak yang ditinggal oleh ayah kandungnya sejak kecil dan sempat berpindah tempat tinggal, termasuk pernah tinggal di Indonesia ini, akhirnya menjadi orang nomer satu di negara adidaya Amerika. Dengan darah campuran antara ibu kulit putih dan ayah keturunan Afrika, membuatnya sempat mengalami kebingungan identitas. Bahkan, di usia awalnya, Obama sempat berkenalan dengan narkoba. Namun,segalanya mulai berubah tatkala ia diterima di Harvard Law School dan mulai melihat titik terang dalam hidupnya. Mulailah Obama berani bermimpi, setahap demi setahap. Mulai dari masuk ke Kongres, menjadi Senator hingga menjadi Presiden. Sebuah perjalanan yang hanya bisa dilewati dengan berpegang teguh pada mimpinya. Pada diri Barack Obama-lah, kita melihat bagaimana pidato Martin Luther King yang terkenal, "I have a Dream", betul-betul terwujud!

Daring Dream atau Daydream?

Sudah begitu banyak buku, seminar, artikel yang mengajarkan kepada kita soal pentingnya menetapkan sebuah impian. Tetapi pertanyaannya yang terpenting sekarang: apakah yang kita miliki hanya sekedar mimpi saja (daydream) atau itu merupakan mimpi berani yang harus dicapai (daring dream)?

Dalam pembelajaran selama hidup ini, dari buku – buku yang saya baca, seminar yang penah saya ikuti, termasuk belajar dari kisah hidup Barack Obama, saya mendefinisikan ada 5 perbedaan kualitas antara yang berani bermimpi (daring dream) dengan sekedar bermimpi (daydream).

Pertama, orang yang berani bermimpi menggantungkan kepada disiplin diri untuk meraihnya, sedangkan seorang pemimpi menggantungkan kepada keberuntungan.

Seorang yang berani bermimpi, umumnya punya disiplin yang kuat untuk merealisasikan mimpinya. Ambil contoh Barrack Obama, tatkala kalah dari Bobby Rush dalam pemilihan partai Demokrat untuk U.S. House of Representative di tahun 2000, ia tidak menyerah dan masih setia mewujudkan mimpi-mimpinya. Dan dengan kepala tegak dan penuh disiplin, Barrack Obama tetap melanjutkan perjuangan prinsip-prinsipnya. Itulah salah satu disiplin mewujudkan mimpi yang ditunjukkan Barack Obama. Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan motivator dunia, Jim Rohn bahwa, "Discipline is the bridge between goals and accomplishment." Jelas, hanya kedisiplinanlah yang menjadi kunci atau jembatan untuk merealisasikan setiap mimpi kita.

Kedua, pribadi yang berani bermimpi tetap terfokus pada proses pencapaian, sedangkan pemimpi selalu terfokus kepada tujuan akhir saja, serta enggan melewati prosesnya.

Lihatlah Barrack Obama. Ia memulai proses menjadi kandidat Presiden dengan tertatih-tatih, satu demi satu persaingan yang berat harus dihadapinya. Termasuk persaingan yang luar biasa adalah justru tatkala ia harus berhadapan dengan Hillary Clinton, istri mantan Presiden Bill Clinton yang sudah begitu dikenal. Jutaan pasang mata bisa melihat bagaimana proses perdebatan yang sengit terjadi diantara mereka, dan Obama menjadi Presiden bukannya dengan jalan yang mulus. Tetapi itulah proses perjuangan yang ditunjukkan seorang Barrack Obama. Berbicara tentang hal ini, Greg Anderson, seorang penulis dari Amerika dan pendiri American Wellness Project pernah berujar, "Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it." Sungguh tepat! Karena itu, kita pun perlu berfokus pada proses pencapaian setiap visi, impian dan cita – cita kita, sesulit apapun! Dan mulai menikmati proses dalam pencapaiannya. Herannya, tatkala kita betul-betul menikmatinya, suatu ketika kita akan merasa bahwa, tanpa disadari ternyata kita sudah bisa meraih apa yang kita angan-angankan.

Ketiga, seorang yang berani bermimpi mencari alasan untuk bertindak, sedangkan seorang pemimpi mencari alasan untuk mengeluh.

Seorang yang benar – benar berani bermimpi, memfokuskan diri kepada tindakan – tindakan yang makin mengarahkan kepada mimpinya. Sebagai seorang yang pernah berkerjasama dan menggunakan metode 'agitasi emosi'-nya Paul Allinski, Barrack Obama banyak meletakkan dirinya pada situasi dimana ia betul-betul 'marah' pada kondisinya sekarang untuk memaksanya mengambil tindakan. Itulah yang diajarkan oleh Obama. Tatkala kita tidak puas dengan kondisi sekarang dan mengharapkan yang lebih baik, janganlah mengeluh tetapi berbuatlah sesuatu yang mampu mewujudkan kondisi yang lebih baik. Fokus Obama hanya satu, yaitu bertindak untuk mencapai apa yang menjadi impiannya. Bagaimana dengan Anda? Lebih banyak berkeluh kesah atau bertindak?

Keempat, seorang yang berani bermimpi selalu mengambil inisiatif, sedangkan orang yang hanya bermimpi selalu menunggu.

Seorang pemimpi punya kecenderungan menunggu. Entah menunggu waktu baik, hari baik, kesempatan lebih baik, peluang lebih baik, rekan yang baik, tempat yang baik, dan hal baik lainnya yang selalu menjadi pre-kondisi untuk mewujudkan impiannya. Hal ini kontradiktif sekali dengan orang yang benar – benar berani bermimpi. Dalam kondisi maupun situasi apapun, orang ini selalu mengambil inisiatif. Apa yang belum ada, maka dia akan berusaha keras untuk mencari atau bahkan menciptakannya. Perhatikan Barack Obama, kelahiran tahun 1961, yang tidak menunggu lantaran usianya yang relatif muda sebagai politisi. Bandingkan dengan Obama yang tidak menunggu kesempatan datang, namun selalu mengejar bahkan menciptakan peluang. Termasuk saat Obama berusaha bergabung dengan Sidley and Austin law firms dimana ia bertemu dengan istrinya, Michelle pertama kali, sekaligus kesempatannya untuk bertemu dengan para top leader.

Akhirnya, Kelima, seorang yang berani bermimpi selalu menganggap bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi, sedangkan seorang pemimpi menganggap bahwa yang terjadi adalah tanggung jawab orang lain.

Kualitas terakhir inilah yang menjadi penentu antara seorang yang sekedar pemimpi dengan yang berani bermimpi. Mereka yang berani bermimpi, punya respon yang benar atas apapun yang terjadi. Di saat terjadi kesalahan maupun kekeliruan, diri mereka tidak mencari 'kambing hitam' untuk dipersalahkan, tetapi selalu belajar dari pengalaman itu.

Mulai saat ini, marilah menjadikan diri kita sebagai DARE DREAMER bukan hanya seorang daydreamer! Ngomong-ngomong, tahukah Anda buku pertama yang ditulis Barrack Obama yang sebagian besar diselesaikan di Bali, berhubungan juga dengan mimpi yakni, "DREAMS from My Father"! Barrack Obama adalah dare dreamer sejati!

http://www.anthonydiomartin.com/2009/02/06/belajar-dari-barack-obama/comment-page-1/#comment-24

Thursday, March 5, 2009

A R T I B E S A R C A T A T A N


Sisihkan waktu untuk merencanakan pekerjaan dan kehidupan
Anda setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Periksa kembali
apakah tak ada yang terlupa.. Perencanaan kecil semacam ini akan
mencegah munculnya persoalan dalam perjalanan pekerjaan Anda. Dengan
bertindak demikian maka kehidupan Anda pun akan berjalan dengan mulus.

Seringkali kita merasakan tidak punya waktu untuk
merencanakan pekerjaan dan hidup kita, karena sudah sangat sibuk
untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul. Akan tetapi kita
tidak sadar bahwa, sering kali, persoalan-persoalan tersebut justru
muncul karena tidak adanya perencanaan yang tajam. Memang, tidak
semua persoalan bisa diselesaikan di depan. Atau semuanya bisa
dicegah, setajam dan selama apapun perencanaan dan persiapan
dilakukan. Akan tetapi banyak sekali yang dapat dihemat dengan
melakukan perencanaan dan persiapan yang matang: hemat waktu, uang,
energi. Perencanaan juga dapat mencegah kita untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu.

Untuk mempertajam perencanaan, biasakan Anda melakukan hal-hal di
bawah ini :

Rencanakan setiap langkah kegiatan atau prosedur baru, cari
titik-titik yang bisa menjadi hambatan dalam setiap tahap, dan
perkirakan cara terbaik untuk mencegah atau mengatasinya
Pastikan bahwa penugasan-penugasan benar-benar dipahami oleh staf dan
kelompok di lingkungan tanggung jawab Anda
Perhatikan tahap awal pelaksanaan setiap pekerjaan, karena biasanya
pada tahap ini persoalan mulai muncul
Catatlah setiap malam, apa-apa saja kekurangan dalam pelaksanaan
pekerjaan hari ini, dan rencanakan apa-apa saja yang akan anda
lakukan esok hari, agar pelaksanaan pekerjaan akan lebih baik dari
hari ini dan seterusnya

Mencatat adalah kegiatan yang sering kita abaikan. Padahal,
mencatat itu adalah bagian penting untuk menghemat memori ingatan
kita. Seringkali kita lupa apa yang kita ingat kemarin hanya karena
tidak dicatat, dan baru teringat keesokan harinya atau bahkan
seminggu kemudian.

Jadi, rencanakan dengan matang, dan jangan lupa mencatat !

Sumber : ESENSI KEPEMIMPINAN : MEWUJUDKAN VISI MENJADI AKSI" karangan
Erry Riyana Hardjapamekas

Kiriman dari
Debby Susanti
Surabaya


Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

Sunday, March 1, 2009

Rantai Gajah

Kita semua pastilah tahu gajah liar. Tapi tahukah kita bahwa dalam kondisi liar ia mampu berjalan lebih dari 40 km per hari? Ia juga mampu mencari makan dalam jumlah yang berlimpah. Memiliki kekuatan merobohkan pohon, merusak satu kampung dan memiliki kekuatan lain.

Anda tahu bagaimana cara menjinakkan gajah liar itu? Pertama, tembak gajah itu dengan obat bius. Kedua, ikat gajah itu dengan rantai dan ikatkan di pohon yang besar. Setelah siuman gajah akan lari, tapi karena kakinya diikat dengan rantai, gajah itu pasti akan terjatuh. Setelah terjatuh dia bangun lagi, lari... dan jatuh lagi. Begitu terus berulang-ulang. Setelah gajah lelah datanglah pawang gajah memberinya makan. Ketika gajah memiliki tenaga baru, dia berusaha lari lagi... dan terjatuh lagi. Lalu datang pawang lagi, memberi makan. Kejadian seperti itu terus berulang sampai kira-kira selama 2 pekan.

Di pekan ketiga sang pawang akan mengganti rantai yang mengikat kaki gajah dengan tali plastik. Akankah si gajah mencoba berotak lagi? Ternyata t
idak. Mengapa? Dia takut terjatuh lagi. Dia sudah punya pengalaman berkali-kali di dua pekan sebelumnya; kalau dia berlari pasti terjatuh. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kemampuan gajah berkurang dan dibatasi dengan pikirannya sendiri. Bahkan sampai mati nanti, kehidupan gajah dibatasi dengan pikirannya sendiri. Bila sudah begini, dia tidak mau lagi berjalan lebih dari 40 km. Dia tidak mau lagi mencari makanan sendiri, "Toh nanti ada yang mengantar makanan," pikir si gajah.

Sesungguhnya di dalam diri manusia pun banyak "rantai gajah". "Tak mungkin saya berhasil, saya kan bukan sarjana"; Nggak mungkin saya sukses, bapak dan kakek buyut saya kan miskin, garis keturunan saya adalah garis kere."; Nggak mungkin saya berwirausaha, darah saya kan jawa, cocoknya pegawai negeri."
Ungkapan-ungkapan diri seperti itulah yang saya katakan sebagai "rantai gajah" dalam diri kita.

"Rantai gajah" juga bisa mewujud untuk membatasi pikiran ketika mendapati kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagainya. Ini tentu akan menghambat prestasi dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Kemampuan optimal kita pun tak pernah tercermin dalam aktivitas sehari-hari.

Bila kita ingin memunculkan potensi diri kita yang sesungguhnya, kita harus "take action" untuk membuang "rantai gajah" dalam pikiran kita. Lihatlah Ucok Baba, aktor bertubuh mungil, atau Tukul Arwana yang sosoknya oleh dirinya sendiri diakui sebagai sosok wong ndeso, mampu menjadi presenter di televisi.


Anda tentu juga mengenal Helen Keler. Ia buta, tuli dan "gagu", tapi dia mampu lulus dari Harvard University. Kita juga pasti kenal Hee Ah Lee, seorang yang harnya memilki 4 jari; 2 di kanan, 2 di kiri, namun ia menjadi pianis hebat dunia dan sudah menggelar konser di berbagai negara.

Pendidikan juga tak boleh menjadi "rantai gajah". Bill Gates t
idak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer dan orang terkaya di dunia saat ini.

Kemiskinan pun tak boleh menjadi "rantai gajah". Mantan Meneg BUMN, Sugiharto pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir, dan kuli pelabuhan. Kemiskinan juga melilit masa lalu kehidupan Sylvester Stallone, yang kini menjadi bintang Hollywood papan atas.

Mari segera buang "rantai gajah" yang masih melekat dalam pikiran kita agar kita mampu menembus berbagai keterbatasan.

Dikutip dari buku "Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia", Jamil Azzaini.

----- Original Message -----

Sent: Wednesday, September 17, 2008 8:15 AM
Subject: Rantai Gajah