Thursday, March 5, 2009

A R T I B E S A R C A T A T A N


Sisihkan waktu untuk merencanakan pekerjaan dan kehidupan
Anda setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Periksa kembali
apakah tak ada yang terlupa.. Perencanaan kecil semacam ini akan
mencegah munculnya persoalan dalam perjalanan pekerjaan Anda. Dengan
bertindak demikian maka kehidupan Anda pun akan berjalan dengan mulus.

Seringkali kita merasakan tidak punya waktu untuk
merencanakan pekerjaan dan hidup kita, karena sudah sangat sibuk
untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul. Akan tetapi kita
tidak sadar bahwa, sering kali, persoalan-persoalan tersebut justru
muncul karena tidak adanya perencanaan yang tajam. Memang, tidak
semua persoalan bisa diselesaikan di depan. Atau semuanya bisa
dicegah, setajam dan selama apapun perencanaan dan persiapan
dilakukan. Akan tetapi banyak sekali yang dapat dihemat dengan
melakukan perencanaan dan persiapan yang matang: hemat waktu, uang,
energi. Perencanaan juga dapat mencegah kita untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu.

Untuk mempertajam perencanaan, biasakan Anda melakukan hal-hal di
bawah ini :

Rencanakan setiap langkah kegiatan atau prosedur baru, cari
titik-titik yang bisa menjadi hambatan dalam setiap tahap, dan
perkirakan cara terbaik untuk mencegah atau mengatasinya
Pastikan bahwa penugasan-penugasan benar-benar dipahami oleh staf dan
kelompok di lingkungan tanggung jawab Anda
Perhatikan tahap awal pelaksanaan setiap pekerjaan, karena biasanya
pada tahap ini persoalan mulai muncul
Catatlah setiap malam, apa-apa saja kekurangan dalam pelaksanaan
pekerjaan hari ini, dan rencanakan apa-apa saja yang akan anda
lakukan esok hari, agar pelaksanaan pekerjaan akan lebih baik dari
hari ini dan seterusnya

Mencatat adalah kegiatan yang sering kita abaikan. Padahal,
mencatat itu adalah bagian penting untuk menghemat memori ingatan
kita. Seringkali kita lupa apa yang kita ingat kemarin hanya karena
tidak dicatat, dan baru teringat keesokan harinya atau bahkan
seminggu kemudian.

Jadi, rencanakan dengan matang, dan jangan lupa mencatat !

Sumber : ESENSI KEPEMIMPINAN : MEWUJUDKAN VISI MENJADI AKSI" karangan
Erry Riyana Hardjapamekas

Kiriman dari
Debby Susanti
Surabaya


Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

Sunday, March 1, 2009

Rantai Gajah

Kita semua pastilah tahu gajah liar. Tapi tahukah kita bahwa dalam kondisi liar ia mampu berjalan lebih dari 40 km per hari? Ia juga mampu mencari makan dalam jumlah yang berlimpah. Memiliki kekuatan merobohkan pohon, merusak satu kampung dan memiliki kekuatan lain.

Anda tahu bagaimana cara menjinakkan gajah liar itu? Pertama, tembak gajah itu dengan obat bius. Kedua, ikat gajah itu dengan rantai dan ikatkan di pohon yang besar. Setelah siuman gajah akan lari, tapi karena kakinya diikat dengan rantai, gajah itu pasti akan terjatuh. Setelah terjatuh dia bangun lagi, lari... dan jatuh lagi. Begitu terus berulang-ulang. Setelah gajah lelah datanglah pawang gajah memberinya makan. Ketika gajah memiliki tenaga baru, dia berusaha lari lagi... dan terjatuh lagi. Lalu datang pawang lagi, memberi makan. Kejadian seperti itu terus berulang sampai kira-kira selama 2 pekan.

Di pekan ketiga sang pawang akan mengganti rantai yang mengikat kaki gajah dengan tali plastik. Akankah si gajah mencoba berotak lagi? Ternyata t
idak. Mengapa? Dia takut terjatuh lagi. Dia sudah punya pengalaman berkali-kali di dua pekan sebelumnya; kalau dia berlari pasti terjatuh. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kemampuan gajah berkurang dan dibatasi dengan pikirannya sendiri. Bahkan sampai mati nanti, kehidupan gajah dibatasi dengan pikirannya sendiri. Bila sudah begini, dia tidak mau lagi berjalan lebih dari 40 km. Dia tidak mau lagi mencari makanan sendiri, "Toh nanti ada yang mengantar makanan," pikir si gajah.

Sesungguhnya di dalam diri manusia pun banyak "rantai gajah". "Tak mungkin saya berhasil, saya kan bukan sarjana"; Nggak mungkin saya sukses, bapak dan kakek buyut saya kan miskin, garis keturunan saya adalah garis kere."; Nggak mungkin saya berwirausaha, darah saya kan jawa, cocoknya pegawai negeri."
Ungkapan-ungkapan diri seperti itulah yang saya katakan sebagai "rantai gajah" dalam diri kita.

"Rantai gajah" juga bisa mewujud untuk membatasi pikiran ketika mendapati kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagainya. Ini tentu akan menghambat prestasi dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Kemampuan optimal kita pun tak pernah tercermin dalam aktivitas sehari-hari.

Bila kita ingin memunculkan potensi diri kita yang sesungguhnya, kita harus "take action" untuk membuang "rantai gajah" dalam pikiran kita. Lihatlah Ucok Baba, aktor bertubuh mungil, atau Tukul Arwana yang sosoknya oleh dirinya sendiri diakui sebagai sosok wong ndeso, mampu menjadi presenter di televisi.


Anda tentu juga mengenal Helen Keler. Ia buta, tuli dan "gagu", tapi dia mampu lulus dari Harvard University. Kita juga pasti kenal Hee Ah Lee, seorang yang harnya memilki 4 jari; 2 di kanan, 2 di kiri, namun ia menjadi pianis hebat dunia dan sudah menggelar konser di berbagai negara.

Pendidikan juga tak boleh menjadi "rantai gajah". Bill Gates t
idak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer dan orang terkaya di dunia saat ini.

Kemiskinan pun tak boleh menjadi "rantai gajah". Mantan Meneg BUMN, Sugiharto pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir, dan kuli pelabuhan. Kemiskinan juga melilit masa lalu kehidupan Sylvester Stallone, yang kini menjadi bintang Hollywood papan atas.

Mari segera buang "rantai gajah" yang masih melekat dalam pikiran kita agar kita mampu menembus berbagai keterbatasan.

Dikutip dari buku "Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia", Jamil Azzaini.

----- Original Message -----

Sent: Wednesday, September 17, 2008 8:15 AM
Subject: Rantai Gajah

DOSA YG LEBIH HEBAT DARI DOSA BERZINA


Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung.
Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam.
Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.
Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya.
Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya.

Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam.
Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk".
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk.
Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.
"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut.
"Saya takut mengatakannya. " jawab wanita cantik.
"Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya......telah berzina."
Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas
hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai...... tewas", ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya.

Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik," Perempuan bejad, enyah kamu dari sini!
Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu.
Pergi!"...teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.
Perempuan berewajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut.
Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa.
Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu.
Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya.
Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya?
Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.
Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya?
Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya? "
Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?"
Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
"Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?
" Ada !"jawab Jibril dengan tegas.
"Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran.
"Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal.
Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina".

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya.
Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya.
Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah mengangg ap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya.
Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy
Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.

Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub.
Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.
Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui.
From: Tarmedi, Edi
Sent: Thursday, September 18, 2008 2:11 PM
To: Acep; Agustina, Rosa; Andria, Nuzulia; Aprilina, Vivi; Hadiwijaya, Mulya; Hariwibowo, Wati; Hesthy, Dwi; Kurniasih, Yulianita; Lestari, Eka; Meylina, Rita; Ningrum, Ratika; Pulungan, Muhsin; Quintine, Marla; Riyanto, Tetra; Ruhiyat, Yayat; Sudira, Boy; Wahono, Tristanto; Widiyanto, Harry; Widodo, Tini; Yana, Achmad
Subject: FW: DOSA YG LEBIH HEBAT DARI DOSA BERZINA

.